Terdapat sebuah syndrom dalam kehidupan manusia yang meniscayakan seseorang merasa tertinggalkan zaman jika tidak mencobanya. Sebut saja dalam hal ini adalah Syndrome Facebook, Berbondong-bondong manusia memusatkan perhatiannya pada satu aktifitas yang dapat dibilang sebagai kegiatan menelantarkan waktu, yaitu ber-facebook—ria. Inilah salah satu media yang beberapa bulan terakhir menjadi dalam kancah dunia Digital, Mulai dari anak-anak ABG (Anak Baru Gede),Remaja hingga orang tua turut melakoni kegiatan ini, tanpa memahami benar apa dan bagaimana facebook itu. Bahkan trend facebook-an ini kini tidak saja melanda kota-kota besar akan tetapi juga sudah sampai ke daerah-daerah pelosok.
Melalui berbagai fasilitas digital yang tengah mewabah saat ini, Zuckerberg berhasil menularkan hasil ciptaannya ini ke seluruh dunia sampai ke Indonesia. Terdapat Perangkat digital yang dapat difungsikan sebagai media browser yaitu Personal Computer (PC),Notebook dan Handphone (HP). Media-media tersebut memberikan kemudahan-kemudahan kepada seluruh umat di dunia untuk mengakses berbagai hal yang terdapat di dalam dunia maya. Dan hal ini akan terus berlangsung mengusung perkembangan-perkembangan teknologi hasil ciptaan manusia-manusia kreatif.
Sudah menjadi trend dalam kehidupan manusia, bahwa segala sesuatu hal atau kegiatan yang dilakukan pasti memiliki sisi-sisi positif dan sisi-sisi negatif. Salah satu hal yang menjadi Dampak negative dengan hadirnya media conference ala dunia maya ini adalah adanya syndrome. Kecenderungan seseorang terhadap sebuah hal atau kegiatan pada akhirnya dapat mengakibatkan terlantarnya aktifitas lain yang sesungguhnya lebih bermanfaat dan berguna untuk dilakukan. Untuk itulah mengapa terdapat peribahasa yang mengatakan bahwa waktu adalah uang.
Secara langsung dan tidak langsung dan besar atau kecilnya kita akan mengalami contoh sisi negatif pada kehidupan pribadi kita masing-masing dengan kata lain akan merasakan dan tidak perlunya digambarkan ditulisan ini.
Hanya sekedar menulis apa yg saya rasakan juga saya alami dan semua itu semoga bisa menjadi pelajaran dan mempunyai arti dalam tulisan saya.
01 Agustus 2009
11 Juli 2009
Aplikasi 5 R dan Tahap-Tahapnya
Kami dikantor dan pabrik sedang melaksanakan sistem 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) atau 5 S sebagai bagian dari terapan appropiate working condition nya-ISO 9000 series.
(1) Ringkas (Seiri): Singkirkan barang yang tidak perlu.
(2) Rapi (Seiton): Penyimpanan barang sesuai dengan tempatnya.
(3) Resik (Seiso): Membersihkan berarti memeriksa.
(4) Rawat (Seiketsu): Menghindari ketidakpastian/ketidaksesuaian.
(5) Rajin (Shitsuke): Norma kerja produktif selalu dipatuhi.
5R (5S) ini mayoritas diterapkan di perusahaan/manufaktur milik Jepang dan Korea, termasuk perusahaan kami.
Penerapan 5R harus dilakukan secara sistematis karena pada intinya 5R bukanlah suatu standar tetapi lebih ke arah pembentukan budaya seluruh karyawan di dalam suatu perusahaan.
5R memang tidak dapat dibolak-balik karena itu sudah menjadi suatu urutan logis yang harus dijalankan. Dimana hal pertama yang harus dilakukan adalah ringkas bagaimana membuat area kerja menjadi ringkas dengan hanya menempatkan barang-barang yang diperlukan saja. Setelah ringkas baru dirapikan dan dibersihkan. Tahap selanjutnya baru melakukan perawatan dan pemerliharaan. Satu hal yang penting yang harus diperhatikan adalah jangan berharap akan terjadi bersih kalau belum ringkas. Demikian juga seterusnya. Sehingga pada intinya 5R harus diterapkan step by step mulai dari R1, setelah cukup baik baru ke R2 dan seterusnya.
Pembentukan budaya 5R bukanlah suatu yang instan, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi budaya. Dalam 5R tentu tidak ada yang sempurna, semua harus berpikir menjadi lebih baik menjadi lebih baik dan terus akan menjadi lebih baik.
Saya semakin yakin manfaat 5 R ini dari masukan rekan-rekan. Saya ingin sharing sudut pandang yang lain tentang penerapan 5 R ini. Dari pangalaman, ternyata 5 R bisa diterapkan dimana saja, untuk jenis usaha apa saja yang penting tujuannya jelas dan dapat diukur efektifitasnya (Kata pepatah: if you can not measure it, you can not manage it). Kami dikantor dan dipabrik menggunakan ukuran point tertentu. Jadi, kami memodifikasi sendiri sesuatu yang kami anggap benar dan baik kami standarkan. Moga-moga kalau score nya udah tinggi lama kelamanan jadi budaya.
Kalau mengenai urutan 5 R, kami masih mencari pembenarannya dari sudut lain, misalnya: mengapa R ke 4 (Rawat) dan 5 (Rajin) di letakkan paling belakang? kalau menurut saya :karena kedua hal tersebut tidak dapat dilihat/tidak kelihatan, tapi justru yang paling penting karena basis penerapan ini di Rajin nya (Disiplin). Kalau begitu kenapa tidak didepan? Dari pengalaman penerapannya kami cari pembenaran yang duluan ditulis yang kelihatan (Seeing is beliefing), sedangkan R1,2,3 sejalan dengan pemikiran sesuai urutan proses dan berbasis efisien yang juga didasari Kaizen.
Kami mempunyai 3 langkah awal untuk:
(1) 5R yang aktif (persiapan)
(2) Pembudayaan 5R (5R yg efektif)
(3) 5R pencegahan (penerapan 5R tingkat lanjut)
Urutan dari 5R sendiri adalah: (1) Ringkas (2) Rapi (3) Resik (4) Rawat (5) Rajin.
Dalam tahap I:
(1) Ringkas:
- membuang barang yang tidak diperlukan. Disini brg dikelp mjd 4 (barang rusak/ dibuang, stok mati/dibuang,stok tidur/dipindahkan ke tempat penyimpanan lain & bahan sisa)
(2) Rapi:
- membenahi tempat penyimpanan
- mengatur tata letak peralatan kerja
(3) Resik:
- Mengatur prosedur kebersihan harian, termasuk penanggung jawabnya.
(4) Rawat:
- Mempertahankan dan menindaklanjuti dr ketiga langkah diatas.
- pemeriksaan ke lapangan
(5) Rajin:
- Pengendalian visual tempat kerja
- menerima kritik & saran atas pelaksanaan 3 hal diatas
- pemasangan slogan2
- menuju terciptanya suatu KEBIASAAN yang rajin, yg pada akhirnya akan menjadi BUDAYA
Dalam tahap II:
(1) Ringkas:
- mengendalikan tingkat persediaan barang
(2) Rapi:
- memudahkan penggunaan dan pengembalian barang
(3) Resik:
- Membudayakan kebersihan & pemeriksaan minimal 5 menit setiap hari
(4) Rawat:
- Mempertahankan tempat kerja yg resik
(5) Rajin:
- Mempertahankan rawat di perusahaan
Dalam tahap III:
(1) Ringkas pencegahan:
- menghindari adanya barang yg tidak diperlukan
(2) Rapi pencegahan:
- menghindari ketidakrapian
(3) Resik pencegahan:
- membersihkan tanpa mengotori lagi
(4) Rawat pencegahan:
- mencegah penurunan kondisi lingkungan
(5) Rajin pencegahan:
- mensistematika pelatihan
Jadi, saya simpulkan disini bahwa tujuan dari masing2 langkah adalah:
(1) Ringkas: biaya/cost
(2) Rapi: proses & delivery
(3) Resik: quality & safety
(4) Rawat: sistem & standar
(5) Rajin: budaya & sikap.
Jadi menurut saya, inti/dasar dari 5R adalah Ringkas, Rapi & Resik, sedangkan Rawat dan Rajin adalah proses pengendalian & tindak lanjut dari ketiga hal tsb.
Tentang jaman sekarang ini kebanyakan dari konsumen mengharapkan Quality up, cost down, ya 5 R inilah menurut saya salah satu approach dasar yang paling ampuh untuk memperoleh efisiensi.
Dalam pelaksanaan 5 R dikantor dan lapangan, kami menggunakan tahapan sikap kerja yang:
a) DIPAKSA (Manusia pada dasarnya malas)
b) TERPAKSA (Kendali dengan sistem)
c) BISA ( Proses pembelajaran sampai Tahu)
d) BIASA (Sikap yang termotivasi)
e) BUDAYA (Perilaku yang mengarah pada belief)
Saat ini di perusahan kami menambah atau merubah 5R/5S menjadi 6S/6R,kenapa bisa muncul hurup ke-6 ?
Angka atau hurup ke-6 yaitu ”SENTEAISATSU” adalah suatu bentuk penghormatan yang lebih mengarah kepada Kepuasan Pelangga (Customer Satisfaction) suatu keadaan dimana keinginan pelanggan,harapan dan juga kebutuhan pelanggan dipenuhi.
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam penyediaan pelayanan yang lebih baik,lebih efisien dan lebih efektif.
Pentingnya kepuasan pelanggan sangat beralasan karena :
a) Kunci untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.
b) Suatu penyebab munculnya loyalitas pelanggan(ketidakpuasan adalah alasan dasar hilangnya pelanggan).
c) Menumbuhkan citra positif perusaaan.
d) Bentuk keunggulan daya saing yang paling efektip.
Adapun hal lain yang tidak dapat dipisahkan dengan kepuasan pelanggan adalah bagaimana kita mengelola diri kita sendiri agar bisa berinteraksi dengan orang lain sehingga komunikasi kita berjalan baik,hal itu bisa kita lakukan didalam perusaan sendiri maupun di tempat customer yaitu dengan melakukan 3S :SENYUM,SALAM dan SAPA.
Rangkuman dari team 6S "PT .SUPER STEEL KARAWANG" 2008
(1) Ringkas (Seiri): Singkirkan barang yang tidak perlu.
(2) Rapi (Seiton): Penyimpanan barang sesuai dengan tempatnya.
(3) Resik (Seiso): Membersihkan berarti memeriksa.
(4) Rawat (Seiketsu): Menghindari ketidakpastian/ketidaksesuaian.
(5) Rajin (Shitsuke): Norma kerja produktif selalu dipatuhi.
5R (5S) ini mayoritas diterapkan di perusahaan/manufaktur milik Jepang dan Korea, termasuk perusahaan kami.
Penerapan 5R harus dilakukan secara sistematis karena pada intinya 5R bukanlah suatu standar tetapi lebih ke arah pembentukan budaya seluruh karyawan di dalam suatu perusahaan.
5R memang tidak dapat dibolak-balik karena itu sudah menjadi suatu urutan logis yang harus dijalankan. Dimana hal pertama yang harus dilakukan adalah ringkas bagaimana membuat area kerja menjadi ringkas dengan hanya menempatkan barang-barang yang diperlukan saja. Setelah ringkas baru dirapikan dan dibersihkan. Tahap selanjutnya baru melakukan perawatan dan pemerliharaan. Satu hal yang penting yang harus diperhatikan adalah jangan berharap akan terjadi bersih kalau belum ringkas. Demikian juga seterusnya. Sehingga pada intinya 5R harus diterapkan step by step mulai dari R1, setelah cukup baik baru ke R2 dan seterusnya.
Pembentukan budaya 5R bukanlah suatu yang instan, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi budaya. Dalam 5R tentu tidak ada yang sempurna, semua harus berpikir menjadi lebih baik menjadi lebih baik dan terus akan menjadi lebih baik.
Saya semakin yakin manfaat 5 R ini dari masukan rekan-rekan. Saya ingin sharing sudut pandang yang lain tentang penerapan 5 R ini. Dari pangalaman, ternyata 5 R bisa diterapkan dimana saja, untuk jenis usaha apa saja yang penting tujuannya jelas dan dapat diukur efektifitasnya (Kata pepatah: if you can not measure it, you can not manage it). Kami dikantor dan dipabrik menggunakan ukuran point tertentu. Jadi, kami memodifikasi sendiri sesuatu yang kami anggap benar dan baik kami standarkan. Moga-moga kalau score nya udah tinggi lama kelamanan jadi budaya.
Kalau mengenai urutan 5 R, kami masih mencari pembenarannya dari sudut lain, misalnya: mengapa R ke 4 (Rawat) dan 5 (Rajin) di letakkan paling belakang? kalau menurut saya :karena kedua hal tersebut tidak dapat dilihat/tidak kelihatan, tapi justru yang paling penting karena basis penerapan ini di Rajin nya (Disiplin). Kalau begitu kenapa tidak didepan? Dari pengalaman penerapannya kami cari pembenaran yang duluan ditulis yang kelihatan (Seeing is beliefing), sedangkan R1,2,3 sejalan dengan pemikiran sesuai urutan proses dan berbasis efisien yang juga didasari Kaizen.
Kami mempunyai 3 langkah awal untuk:
(1) 5R yang aktif (persiapan)
(2) Pembudayaan 5R (5R yg efektif)
(3) 5R pencegahan (penerapan 5R tingkat lanjut)
Urutan dari 5R sendiri adalah: (1) Ringkas (2) Rapi (3) Resik (4) Rawat (5) Rajin.
Dalam tahap I:
(1) Ringkas:
- membuang barang yang tidak diperlukan. Disini brg dikelp mjd 4 (barang rusak/ dibuang, stok mati/dibuang,stok tidur/dipindahkan ke tempat penyimpanan lain & bahan sisa)
(2) Rapi:
- membenahi tempat penyimpanan
- mengatur tata letak peralatan kerja
(3) Resik:
- Mengatur prosedur kebersihan harian, termasuk penanggung jawabnya.
(4) Rawat:
- Mempertahankan dan menindaklanjuti dr ketiga langkah diatas.
- pemeriksaan ke lapangan
(5) Rajin:
- Pengendalian visual tempat kerja
- menerima kritik & saran atas pelaksanaan 3 hal diatas
- pemasangan slogan2
- menuju terciptanya suatu KEBIASAAN yang rajin, yg pada akhirnya akan menjadi BUDAYA
Dalam tahap II:
(1) Ringkas:
- mengendalikan tingkat persediaan barang
(2) Rapi:
- memudahkan penggunaan dan pengembalian barang
(3) Resik:
- Membudayakan kebersihan & pemeriksaan minimal 5 menit setiap hari
(4) Rawat:
- Mempertahankan tempat kerja yg resik
(5) Rajin:
- Mempertahankan rawat di perusahaan
Dalam tahap III:
(1) Ringkas pencegahan:
- menghindari adanya barang yg tidak diperlukan
(2) Rapi pencegahan:
- menghindari ketidakrapian
(3) Resik pencegahan:
- membersihkan tanpa mengotori lagi
(4) Rawat pencegahan:
- mencegah penurunan kondisi lingkungan
(5) Rajin pencegahan:
- mensistematika pelatihan
Jadi, saya simpulkan disini bahwa tujuan dari masing2 langkah adalah:
(1) Ringkas: biaya/cost
(2) Rapi: proses & delivery
(3) Resik: quality & safety
(4) Rawat: sistem & standar
(5) Rajin: budaya & sikap.
Jadi menurut saya, inti/dasar dari 5R adalah Ringkas, Rapi & Resik, sedangkan Rawat dan Rajin adalah proses pengendalian & tindak lanjut dari ketiga hal tsb.
Tentang jaman sekarang ini kebanyakan dari konsumen mengharapkan Quality up, cost down, ya 5 R inilah menurut saya salah satu approach dasar yang paling ampuh untuk memperoleh efisiensi.
Dalam pelaksanaan 5 R dikantor dan lapangan, kami menggunakan tahapan sikap kerja yang:
a) DIPAKSA (Manusia pada dasarnya malas)
b) TERPAKSA (Kendali dengan sistem)
c) BISA ( Proses pembelajaran sampai Tahu)
d) BIASA (Sikap yang termotivasi)
e) BUDAYA (Perilaku yang mengarah pada belief)
Saat ini di perusahan kami menambah atau merubah 5R/5S menjadi 6S/6R,kenapa bisa muncul hurup ke-6 ?
Angka atau hurup ke-6 yaitu ”SENTEAISATSU” adalah suatu bentuk penghormatan yang lebih mengarah kepada Kepuasan Pelangga (Customer Satisfaction) suatu keadaan dimana keinginan pelanggan,harapan dan juga kebutuhan pelanggan dipenuhi.
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam penyediaan pelayanan yang lebih baik,lebih efisien dan lebih efektif.
Pentingnya kepuasan pelanggan sangat beralasan karena :
a) Kunci untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.
b) Suatu penyebab munculnya loyalitas pelanggan(ketidakpuasan adalah alasan dasar hilangnya pelanggan).
c) Menumbuhkan citra positif perusaaan.
d) Bentuk keunggulan daya saing yang paling efektip.
Adapun hal lain yang tidak dapat dipisahkan dengan kepuasan pelanggan adalah bagaimana kita mengelola diri kita sendiri agar bisa berinteraksi dengan orang lain sehingga komunikasi kita berjalan baik,hal itu bisa kita lakukan didalam perusaan sendiri maupun di tempat customer yaitu dengan melakukan 3S :SENYUM,SALAM dan SAPA.
Rangkuman dari team 6S "PT .SUPER STEEL KARAWANG" 2008
Langganan:
Postingan (Atom)